Pengumuman Finalis Kompetisi Jembatan Indonesia Ke-12 (KJI-XII) dan Kontes Bangunan Gedung Indonesia Ke-8 (KBGI-VIII) Tahun 2016

Published by:

Yth. Pimpinan Perguruan Tinggi (terlampir)
di tempat

Dengan hormat,

Sehubungan dengan telah selesainya evaluasi proposal peserta KJI-XII dan KBGI-VIII Tahun 2016 dengan ini kami sampaikan tim (terlampir) yang dinyatakan LOLOS sebagai finalis untuk mengikuti KJI-XII dan KBGI-VIII Tahun 2016. Babak Final akan dilaksanakan tanggal 01 s.d. 04 Desember 2016 di Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang. Tim finalis wajib melakukan registrasi ulang melalui laman http://kji-kbgi2016.polsri.ac.id.

Berkenaan dengan hal tersebut, kami mohon bantuan Saudara untuk menginformasikan hasil seleksi ini kepada tim finalis dari Perguruan Tinggi Saudara. Biaya akomodasi dan konsumsi ditanggung oleh panitia sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta membawa SPPD berstempel yang ditandatangani pejabat perguruan tinggi masing-masing.

Demikian kami sampaikan dan selamat atas keberhasilan tim yang lolos menjadi finalis. Atas perhatian dan kerja sama yang baik, kami mengucapkan terima kasih.

Direktur Kemahasiswaan,

ttd

Didin Wahidin

Tembusan :
1. Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan
2. Koordinator Kopertis Wilayah I s.d. XIV
3. Wakil/Pembantu Rektor/Direktur/Ketua Bidang Kemahasiswaan ybs

Lampiran :
1.  Pengumuman KJI-XII dan KBGI-VIII 2016

Melihat Hungaria Lewat Hasil Fotografi

Published by:

JAKARTA – Kerjasama antara Indonesia dan Hungaria semakin erat. Selain menjalin kerjasama dalam penggunaan energi atom dan beasiswa pendidikan, Hungaria juga memperkenalkan sejarah dan budaya negaranya melalui ”Photo Exhibition, Hungary’s Past and Present”. Pameran foto Hungaria tempo dulu dan masa kini tersebut digelar di Hotel Kartika Chandra, Rabu (3/11).

Seremoni pembukaan pameran foto dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Ainun Na’im yang ditandai dengan pemukulan gong. Sejumlah pejabat kedua negara tampak hadir mengikuti acara ini, antara lain Wakil Menteri Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Hungaria, László Szabó; Duta Besar Hungaria untuk Indonesia Timor-Leste dan ASEAN Judit Németh-Pach; Director of MTI, L. Ferenc Gazsó (Hungarian News Agency of Duna Media Service NonProfit Ltd), dan  Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemenristekdikti Nada Marsudi.

Dalam pameran fotografi ini terdapat foto-foto Hungaria tempo dulu, termasuk masa revolusi tahun 1956. Sedang foto Hungaria masa kini memuat foto-foto perkembangan Hungaria selama 25 tahun terakhir. Karya fotografi yang dipamerkan merupakan karya jurnalistik wartawan foto dari kantor berita nasional Hungaria MTI. (SUT)

Pengembangan BATAM Digital Hill

Published by:

Direktur Pembelajaran Paristiyanti Nurwardani bersama  Tim Fasilitator BDHJakarta – Belmawa.  Pemerintah Republik Indonesia saat ini tengah meningkatkan kemudahan  bagi investor asing untuk membuka usaha di Indonesia. Tentunya, ini merupakan peluang bagi para investor atau pengusaha asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Hal ini juga merupakan tantangan bagi perguruan tinggi bagaimana perguruan tinggi memberikan dukungan khususnya pemenuhan tenaga kerja terdidik profesional. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi memiliki misi untuk memfasilitasi kemitraan perguruan tinggi dengan berbagai perusahaan. 

Beberapa Perusahaan berbasis teknologi informasi (IT) dari negara jiran Singapura akan melakukan ekspansi usahanya di Indonesia dan menjadikan P. Batam sentra usahanya. Diperkirakan pada tahap awal 2017  akan dibutuhkan 200 (dua ratus) ahli IT dan akan meningkat secara bertahap sehigga diproyeksikan dalam 5 tahun ke depan akan dibutuhkan 2000 (dua ribu) tenaga kerja berlatar IT yang di dalamnya antara lain lulusan pendidikan tinggi.

Untuk penyediaan tenaga kerja profesional khususnya dalam bidang IT dari perguruan tinggi, perusahaan tersebut menggandeng Temasek Polytechnic Singapura dan Politeknik Batam. Kedua PT ini akan bekerja sama untuk menyiapkan lulusan dalam upaya mensuplai perusahaan dengan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Untuk mewujudkan kerjasama ini akan ditandatangani MoU antara kedua Poltek di Semarang pada tanggal 14 November 2016. Direktur Pembelajaran, yang mendapat tugas dari Dirjen Belmawa, akan memfasilitasi pelaksanaan program dan membentuk Tim taskforce guna mendukung realisasi kemitraan tersebut dan mengembangkan program sejenis secara nasional.

Proyek kemitraan perusahaan berbasis IT di Batam dengan politeknik dalam beberapa tahun yang memerlukan tenaga kerja terdidik profesional dalam jumlah ribuan dideklarasikan dengan nama Batam Digital Hill (BDH). BDH menjadi program yang saling menguntungkan Indonesia dan Singapura. BDH akan berguna bagi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia serta menyiapkan dukungan bagi perencanaan program Presiden untuk 1000 (seribu) industri kreatif berbasis IT

Direktorat Pembelajaran memfasilitasi beragam kegiatan agar program BDH berjalan baik, sukses dan memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. Bahkan proyek BDH ini diharapkan akan menjadi pemicu tumbuhnya model model BDH lain di Indonesia.

Paristiyanti Nurwardani menyampaikan bahwa untuk menyiapkan implementasi program BDH tersebut, perlu diselenggarakan workshop pengembangan kurikulum pendidikan tinggi di Bali yang akan diselenggarakan pada tanggal 10-12 November 2016 dan melibatkan lebih dari 70 dosen dalam lingkup Prodi berbasis IT. Mereka diharapkan akan menjadi bagian dari program BDH. BDH ini diharapkan akan menjadi salah satu percontohan dan menjadi multifliers effect bagi daerah lain di Indonesia. Peran perguruan tinggi di dalamnya akan semakin besar tertutama dalam mengembangkan kurikulum vokasi yang sesuai dengan kebutuhan industri: Batam Digital Hill untuk Indonesia. (HS/editor/HKLI)

Tantangan dan Arah Perkembangan Politeknik Indonesia

Published by:

BANDUNG – Upaya revitalisasi pendidikan vokasi terus dilakukan pemerintah. Hal tersebut semata-mata guna meningkatkan daya serap para lulusan sekolah atau perguruan tinggi vokasi di dunia kerja (industri).

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir mengatakan ingin menghilangkan stereotype politeknik sebagai perguruan tingi kelas dua.

“Bagaimana caranya biar poltek bisa ikut dalam seleksi bersama masuk perguruan tinggi. PTN, PTS sama saja. Bukan cuma perguruan tingginya saja tapi juga dosen akan saya revitalisasi. Dua belas politeknik nanti mulai dari kelembagaannya, sumberdaya nya maupun sarana dan prasarana nya itu akan direvitalisasi,” ujarnya saat Kunjungan kerja ke Politeknik Manufaktur Negeri Bandung, Kamis (3/11).

World Economic Forum (WEF) merilis Global Competitiveness Report 2016-2017 yang menunjukkan peringkat daya saing Indonesia turun dari posisi 37 ke 41 dari 138 negara. Menristekdikti menyebutkan terdapat 12 pilar yang menyebabkan hal tersebut. Pokok yang paling mendasar adalah korupsi. Perguruan tinggi harus menghindari hal ini, termasuk perihal pungli dan pemilihan pimpinan rektor atau direktur. Kedua, inefisiensi kebijakan atau lambatnya birokrasi. Ketiga, infrastruktur. Pilar lainnya yaitu pendidikan tingkat atas dan pelatihan serta efisiensi tenaga kerja.

Diantara negara-negara ASEAN, perbandingan tenaga kerja kompetitif kita berada di urutan belakang setelah Singapura dan Malaysia. Pendapatan (gaji) dan produktifitas tenaga kerja Indonesia juga masih sangat rendah. Hal ini mengindikasikan terdapat masalah pada kesiapan tenaga kerja kita. Fakta lainnya yang menunjukkan perlunya revitalisasi pendidikan vokasi juga rendahnya jumlah mahasiswa vokasi Indonesia dibandingkan negara-negara lain di dunia.

“Bagaimana mau mencetak tenaga kerja yang baik, kalau dari kurang lebih 4.300-an perguruan tinggi kita saja politekniknya cuma sedikit dan peminatnya juga sedikit?” tanyanya pada para mahasiswa Polman Bandung yang mengikuti kuliah umum.

Data Badan Pusat Statistik per Agustus 2014 menyebutkan 9,3% pengangguran di Indonesia adalah alumni perguruan tinggi termasuk diantaranya lulusan bergelar sarjana.

Untuk itu, kebijakan Kemenristekdikti yang akan dikeluarkan di tahun 2017 untuk pembangunan ditekankan Nasir akan fokus pada politeknik. Diantaranya kurikulum yang akan disesuaikan dengan kebutuhan industri dan mendorong akreditasi yang baik (A), peningkatan kualitas laboratorium, infrastruktur serta dosen. Anggaran yang digelontorkan guna revitalisasi pendidikan vokasi sendiri sekitar 200 Miliar dan akan terus bertambah pada 2017 nanti. Nasir juga akan mengumpulkan para rektor dan direktur guna membahas seleksi masuk penerimaan bersama bagi politeknik. Dirinya juga mendorong para lulusan politeknik untuk memiliki sertifikat supaya dapat diserap oleh industri dengan cepat.

“Supaya bisa memenuhi kebutuhan industri. Target kami semua lulusan harus punya sertifikat. Ijazah pasti. Karena akan menghadapi persaingan global. Negara bisa maju karena politeknik, negara manapun didunia. Saya ingin menjadikan politeknik garis depan dalam perekonomian Indonesia,” jelasnya.

Para dosen juga akan diikutkan berbagai training baik itu di dalam maupun luar negeri untuk mendapatkan sertifikat ahli di bidang masing-masing. Dalam kesempatan yang sama Menristekdikti didampingi Dirjen Kelembagaan Kemenristekdikti, Patdono Suwignjo, Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur, Hari Purwanto,  juga menyempatkan diri meninjau fasilitas belajar mekatronika, pengecoran logam dan manufaktur di Polman Bandung. (APS)

Indonesia Mengusung Pembentukan ASEAN Public Private Partnership

Published by:

“Mengingat pentingnya peranan sektor publik dan swasta dimana sejalan dengan salah satu APASTI 2016-2025 Goals, Indonesia mengusulkan pembentukan ASEAN Public-Private Partnership” hal ini disampaikan oleh Prof. Ainun Na’im selaku Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti yang mewakili Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia pada pertemuan the 9th Informal ASEAN Ministerial Meeting on Science and Technology (IAMMST-9) pada tanggal 29 Oktober 2016 di Siem Reap, Kamboja.

Sesuai dengan APASTI 2016-2025 Strategic Thrust #1 dan Thrust #3, ASEAN Public-Private Partnership bertujuan untuk menciptakan sebuah wahana untuk mendukung sebuah mekanisme seperti mentorship dan program insentif guna membina start-up companies hingga berhasil menjadi perusahaan yang berdaya saing tinggi. Hal ini memerlukan kerja sama lintas sektoral yang terkait guna memupuk kreasi pengetahuan dan aplikasi iptekin untuk meningkatkan daya saing. Usulan Indonesia tersebut disambut positif oleh para Menteri Iptek ASEAN lainnya dan konsep ASEAN Public-Private Partnership akan disampaikan kepada ASEAN Secretariat untuk dijadikan bahan pembelajaran bersama pada pertemuan COST 72 bulan Mei 2017 di Brunei Darussalam.

kamboja-13

Berbagai program ditawarkan oleh para Menteri Iptek ASEAN, yakni pembentukan ASEAN STI Partnership Collaboration oleh Thailand, ASEAN Open Innovation and Entrepreneurship Platform oleh Thailand, ASEAN Foresight oleh Malaysia, ASEAN Talent Mobility oleh Thailand dan Talent Mobility- Personnel Certification oleh Malaysia. Program-program tersebut akan menjadi instrument untuk mencapai APASTI 2016-2025 Goals.

Pertemuan tingkat Menteri Iptek ASEAN ini dihadiri oleh Secretary General ASEC, Deputy Minister – Prime Minister’s Office Brunei Darussalam, Minister for Industry and Handicraft Cambodia, Secretary General Ristekdikti Indonesia, Minister for Science, Technology and Innovation Malaysia, Minister for Education Myanmar, Secretary (Minister) for Science and Technology Philippines, Managing Director A*Star, Minister for Science and Technology Thailand, dan Vice Minister for Science and Technology Viet Nam. Pernyataan para Menteri Iptek ASEAN dapat diunduh melalui tautan http://asean.org/category/asean-statement-communiques/. (ap/kskp)

UKMP2DG Sebagai Tolok Ukur Kelulusan Mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi

Published by:

FKG UMPADBandung – Belmawa. (28/10/16), Kesehatan merupakan kebutuhan dasar manusia. Dalam memenuhi kebutuhan dasar tersebut, Pemerintah memiliki tugas dan kewajiban menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Dokter/ dokter gigi sebagai pelaku pelayanan kesehatan utama harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang handal serta memiliki integritas etika/moral untuk mendukung terwujudnya pelayanan kedokteran bermutu. Dalam rangka memenuhi kebutuhan dokter/dokter gigi yang profesional, maka proses pendidikan menjadi faktor yang sangat menentukan.

Untuk menjamin mutu, lulusan program pendidikan dokter di Indonesia harus sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) sebagaimana amanat UU RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran dan UU RI Nomor 20  Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran/Kedokteran Gigi. Dan di akhir proses program pendidikan kedokteran dilakukan uji kompetensi mahasiswa yang bersifat nasional untuk memperoleh sertifikat profesi dari institusi pendidikan sesuai UU Pendidikan Kedokteran sekaligus direkognisi sebagai Uji Kompetensi Dokter/Dokter Gigi Indonesia untuk memperoleh sertifikat kompetensi dari organisasi profesi dalam hal ini Kolegium sesuai UU Praktik Kedokteran dan Perkonsil No.1 Tahun 2010

Terkait dengan UKMP2DG seperti tesebut di atas, Kemenristekdikti melakukan pembinaan (melalui PNUKMP2DG) dalam menyelengarakan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi (UKMP2DG) secara serentak di berbagai TUK di FKG Universitas yang ditunjuk. UKMP2DG ini diperuntukan bagi mahasiswa program profesi dokter gigi yang telah menyelesaikan seluruh pekerjaan klinik beserta ujiannya.

Dalam kunjungan ke FKG UNPAD, Tim MONEV Ditjen Belmawa menyempatkan diri berbincang dengan DR.Dudi Aripin, drg,Sp.KG, wakilFKG Unpad1 dekan 2 FKG. Walaupun di luar hujan deras  dan angin kencang, peserta UKMP2DG  tetap semangat mengikutinya.  Ketika dimintai tanggapan terkait UKOM, Dudi menyampaikan bahwa  ini hal positif, karena kandidat dokter gigi ini diuji secara nasional, mereka mempunyai kompetensi yang sama, baik negeri atau swasta. “Kompetensi itu harus merata, jadi hal positif. Dalam pelaksanaannya, yang perlu dicermati adalah ada FKG yang sudah lama. KBK itu kan baru tahun 2007, sementara masih ada beberapa angkatan non KBK. Jadi saat dihadapkan dengan kompetensi, karena metode pembelajarannya lain, mereka agak kesulitan karena tidak melakukan itu pada saatnya. Akibatnya mahasiswa  yang lama-lama itu tidak lulus. Ini persoalanan buat kami,” ungkap Dudi.

Dudi berharapa agar Kemenristekdiktii dapat memberikan kebijakan khusus pada lulusan lama yang tadinya tidak tersentuh. “Jangan disamakan dengan yang baru. Karena tidak dipersiapkan lebih dulu. Metode pelajarannya juga beda. Saya berharap ada kebijakan khusus dari belmawa untuk memperlakukan khusus untuk mereka. Karena mereka terpola lama, sifatnya departemental, perkulian besa. Untuk FKG baru. Mereka sudah sesuai pembimbingan sudah kita lakukan,” tuturnya dengan penuh semangat.

Sementara itu Asdar gani yang bertugas sebagai panitia pusat menyampaikan bahwa perlu back up IT yang kuat dan distandarkan secara nasional, yang lebih aman dan gampang dioperasionalkan sehingga dapat mengatasi permasalahan apabila terjadi gangguan dalam system yang on-line.

Mengenai UKOM, Dr, Asdar Gani drg,M.Kes  yang juga dosen FKG UNHAS Makasar ini memberi catatan kecil agar UKOM ini tidak semata mencerminkan kemampuan sang kandidat. Sejalan dengan opini Dudi Aripin, Asdar menilai mereka yang tidak lulus dari UKOM  mungkin karena tidak familiar, perkuliahan masih konvensional, karena pada sebagian Universitas, CBT masih merupakan High Cost. Harusnya ujian bagian departemental yang diperkuat. Asdar berharap agar APDOGI dan organisasi profesi berembuk untuk hal ini.  Lebih lanjut Asdar menyampaikan standar penyelenggaraan pendidikan disamakan, termasuk Rumah Sakit Gigi dan Mulut karena masih ada PT untuk FKG belum memiliki fasilitas tersebut.. (AS/Editor/HKLI)