Memupuk Jiwa Entrepreneur Melalui Expo Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia

Published by:

Malang – Belmawa. Pembangunan suatu bangsa sangat di pengaruhi oleh kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itulah penyelenggaraan Expo Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) ini menjadi ajang pameran untuk menjalin jaringan usaha, pertukaraan ide-ide bisnis kreatif, dan melakukan sharing dengan wirausahawan yang telah sukses. Melalui kegiatan ini diharapkan mahasiswa Indonesia dapat selalu mengembangkan semangat kewirausahaan. 

“Agar ekonomi meningkat di butuhkan skill yang berkualitas. Dosen dan mahasiswa harus selalu berdiskusi dan bekerja sama untuk menciptakan ide yang kreatif serta inovasi dengan kalkulasi yang tepat sehingga menjadi suatu usaha yang mempunyai nilai tambah, dan di harapkan dapat berkontribusi nyata dalam mencetak lulusan yang berjiwa entrepreneur sehingga mampu bersaing, dan akan membawa Indonesia menjadi lebih baik dan sejahtera,” ungkap Direktur Jenderal Pembelajaraan dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) Intan Ahmad dalam memberikan sambutan sekaligus membuka acara Expo KMI ke-7 di Samantha Krida Universitas Brawijaya Malang pada Kamis lalu (17/11).

Seseorang dengan jiwa entrepreneur adalah sosok yang tidak suka menyalahkan ketika ada masalah, tetapi akan berpikir untuk mencari solusi dan dan tidak pernah menyerah. Oleh karena itu Intan menekankan pada para generasi muda atau mahasiswa agar tidak bergantung kepada orang lain maupun bangsa lain. Intan menekankan agar mereka mampu menentukan masa depan sendiri dan sukses di masa depan.

Rektor Universitas Brawijaya dalam sambutanya menyampaikan bahwa salah satu misi Universitas Brawijaya adalah menyelenggarakan pendidikan berstandar internasional agar peserta didik menjadi manusia yang berkemampuan akademik dan/atau profesi atau vokasi yang berkualitas dan berkepribadian serta berjiwa dan/atau berkemampuan entrepreneur.

Jumlah wirausahawan di Indonesia saat ini harus terus menerus dipacu baik dalam kuantitas maupun kualitas. Melalui Expo KMI ke-7 ini Intan menghimbau untuk terus memupuk jiwa entrepreneur dan selalu menerapkan budaya kreatif di lingkungan kampus, agar karya-karya inovatif civitas akademika dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara komersial di dunia industri. (SR/Editor/HKLI)

Pengumuman Pemenang Program Hibah Pembelajaran Bela Negara

Published by:

Yth. Pimpinan Perguruan Tinggi
(daftar terlampir)

Sebagai tindak lanjut dari surat kami Nomor: 1235/B2.1/LL/2016 tanggal 2 November 2016 tentang Tawaran Program Hibah Pembelajaran Bela Negara, dengan hormat kami informasikan bahwa Direktorat Pembelajaran telah menerima 33 (tiga puluh tiga) usulan dan telah melaksanakan penilaian. Berdasarkan penilaian yang dilakukan, terpilih 4 (empat) usulan yang memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan dana (terlampir).

Kami mengucapkan selamat kepada Perguruan Tinggi saudara yang menjadi pemenang. Selanjutnya, agar tercapai tujuan maksimal dari pelaksanaan hibah, kami akan melakukan bimbingan teknis penyusunan modul, rancangan anggaran dan biaya serta pelaksanaan teknis program hibah yang akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal : Selasa/ 22 November 2016
Waktu : Selasa, mulai pukul 10:00 WIB s.d. Senin 17:00 WIB
Tempat : Hotel Santika Premiere Slipi

Jalan Aipda K.S Tubun No. 7 Slipi Jakarta

Mohon Saudara mempersiapkan diri dengan membawa:

  1. Modul pembelajaran Bela Negara
  2. Membawa rencana anggaran dan biaya

Kami informasikan bahwa, akomodasi dan konsumsi ditanggung oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dalam rangka pencairan dana insentif kami mohon Saudara mengirimkan data dan informasi sesuai format terlampir melalui alamat email: [email protected] subject: Program Pembelajaran Bela Negara.

Bagi pengusul yang telah mengirimkan usulan dan belum lolos seleksi pada tahun ini kami ucapkan terima kasih atas pertisipasinya dan agar dapat meningkatkan kualitas usulan untuk berkompetisi pada kesempatan berikutnya.

Atas perhatian dan kerja sama Saudara, kami mengucapkan terima kasih.

Direktur Pembelajaran

TTD
Paristiyanti Nurwardani

Tembusan:
Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (sebagai laporan).

Lampiran :
Pengumuman Pemenang Bela Negara

 

tr, td{
border :1px solid #ccc;
}

Standar Membangun Kepercayaan Dunia

Published by:

JAKARTA – Tidak diragukan lagi bahwa masyarakat didunia menyadari akan pentingnya ‘standar’ dalam era globalisasi ini. Tidak dapat dibayangkan apabila ‘dunia’ berkembang, tanpa standar yang jelas.

Seiring dengan pergerakan dunia menuju ‘ekonomi global’ yang terpacu dengan perubahan teknologi yang sangat cepat, masalah standar menjadi isu yang sangat strategis. Selain itu, persaingan antar negara, terutama dalam penentuan daya saing bangsa semakin ketat. Oleh sebab itu, ‘standar’ merupakan sarana untuk membangun daya saing bangsa. Lebih lagi, ‘standar’ dapat digunakan untuk menjadi ‘pertahanan’ suatu bangsa dari serbuan produk luar negeri.

Memperingati Hari Standar Dunia dan Bulan Mutu Nasional tahun 2016, Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyelenggarakan berbagai kegiatan, yang melibatkan pemangku kepentingan standardisasi dan penilaian kesesuaian di seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut antara lain adalah (i) Sosialisasi SNI ISO 31000 Manajemen Risiko untuk Sektor Publik, (ii) Seminar Penerapan SNI ISO/IEC 17024 untuk Daya Saing SDM, (iii) Workshop Pemahaman SNI ISO 15189:2012, (iv) Workshop Pemahaman SNI ISO/IEC 17025:2008. Puncak acara peringatan ‘Hari Standar Dunia dan Bulan Mutu Nasional’ dilaksanakan pada tanggal 16 November 2016 di Auditorium, Gedung II BPPT Jakarta. ‘World Standard Day 2016’ mengusung tema ‘Standard Build Trust’. Tema ini digunakan juga untuk memperingati Bulan Mutu Nasional 2016.

Acuan standar di Indonesia yang ditetapkan melalui Standar Nasional Indonesia (SNI), berperan penting mendorong daya saing produk nasional, dalam rangka penguasaan pasar domestik dan Internasional. Di samping itu, SNI juga untuk melindungi pasar domestik dari barang-barang berstandar dan mutu rendah dari luar. Indonesia telah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN sejak 1 Januari 2016, oleh sebab itu, produk barang maupun jasa domestik harus dapat memenuhi standar dan mutu Internasional, agar tidak tergerus produk impor.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan ‘Di era perdagangan bebas ini, kita tidak boleh membuat pembatasan impor dengan meninggikan bea masuk. Oleh sebab itu ‘Standar’ dapat digunakan sebagai ‘penyeleksi’ atau ‘penghalang’ barang masuk, dalam bentuk ‘bukan bea masuk’ atau ‘non-tariff barrier’.

Selanjutnya, Menteri Nasir mengatakan bahwa ‘Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya penerapan standar tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Pemerintah harus mendorong pemahaman sistem mutu baik bagi pelaku usaha maupun konsumen. Saya sangat mendukung BSN dalam memasyarakatkan SNI’, ujar Menteri Nasir di Gedung II BPPT, Rabu 16 November 2016.

Kementerian Riset dan Teknologi pada tahun 2007, sebelum bergabung dengan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi di tahun 2014, bekerjasama dengan BSN dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), telah memulai kegiatan ‘standardisasi’ berdasarkan kebutuhan standar di bidang penanganan bencana alam yang maha dahsyat, pada saat terjadi bencana Tsunami di Aceh. ‘Seharusnya Indonesia dapat menjadi pencetus standar penanggulangan bencana karena sangat rawan terhadap bencana. Indonesia memiliki tingkat resiko yang sangat tinggi. Oleh sebab itu saya sangat mendukung penyelenggaraan acara Seminar Nasional dengan judul “Penerapan SNI ISO 31000 Manajemen Resiko Sebagai Upaya Membangun Kepercayaan Publik”, imbuh Menristekdikti.

Dalam dunia usaha, tentu resiko tidak hanya ditimbulkan oleh bencana alam saja, namun oleh berbagai macam hal. Resiko selalu membayangi semua organisasi. Resiko, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi menimbulkan kerugian yang sangat besar. Kerugian akan berpengaruh terhadap organisasi dalam hal ekonomi, reputasi, lingkungan hidup, keselamatan dan dampak sosial. Oleh sebab itu pengelolaan resiko harus dilaksanakan oleh semua organisasi agar dapat berkinerja tinggi, di tengah situasi yang sangat dinamis saat ini.

‘ISO 31000:2009’ memberikan prinsip dasar dan pedoman dalam pengelolaan resiko. Pedoman ini dapat digunakan oleh semua jenis organisasi besar maupun kecil yang bergerak di bidang apapun. ISO 31000 dapat membantu organisasi mengenali kesempatan dan ancaman serta pengalokasian sumber daya untuk menanggulangi resiko. Oleh karena itu, penerapan ISO 31000 harus digalakkan.

Adapun beberapa acara yang diselenggarakan BSN guna mendukung penerapan standar, diantaranya (i) Seminar Nasional Manajemen Risiko, (ii) Forum Pendidikan Standardisasi (FORSTAN), (iii) ISO Training For New Work Item Proposal (NWIP), (iv) Pelatihan Manajemen Risiko berbasis SNI ISO 31000, JISC/BSN Workshop on Inter-operability Card Standardization, (v) Workshop Skema Penilaian SNI ISO/IEC 17065:2012, serta BaliERM2016 International Conference on Enterprise Risk Management. Bulan Mutu Nasional telah dijadikan momentum untuk melakukan berbagai kegiatan konsolidasi dan pemutakhiran informasi yang terkait dengan penguatan infrastruktur mutu (standardisasi, akreditasi, sertifikasi, inspeksi, dan lain-lain).

Pada kesempatan ini juga dilaksanakan penandatanganan MOU oleh Menteri Dalam Negeri bersama Kepala BSN, Kepala BSN bersama Gubernur Sumatera Selatan dan Bupati Sumedang, Kepala BSN bersama Rektor Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Magelang, Universitas Islam Indonesia, Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan Universitas Pancasila.

Selain itu juga dilaksanakan, penyerahan sertifikat akreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN), penyerahan penghargaan komite teknis perumusan SNI terbaik “Herudi Technical Committee award (HTCA) 2016” dan penganugerahan SNI award 2016. Di samping itu, BSN juga menganugerahi penghargaan kepada 40 pelaku usaha di berbagai bidang yang konsisten dalam menerapkan SNI.

Indonesia Bawa Dua Piala di Kompetisi Roket Air Internasional 2016

Published by:

Dua siswa Indonesia berhasil membawa pulang piala dalam Kompetisi Roket Air Internasional (KRAI) 2016 yang diselenggarakan di University of the Philippines Los Baños, Filipina pada 12 – 13 November 2016. Keduanya adalah Bayu Dwi Tjahyono, siswa SMPN 5 Kebumen yang berhasil menyabet juara kedua, dan Alfian Pebriansyah, siswa SMKN 4 Pontianak yang berhasil meraih juara ketiga. Dalam ajang yang rutin digelar oleh Asia Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF) sejak tahun 2005 ini, sebanyak 54 peserta saling unjuk kreativitas dan keterampilan untuk mengalahkan para pesaingnya dari 13 negara berbeda, yakni Bangladesh, China, India, Jepang, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Nepal, Pakistan, Singapura, Srilanka, Thailand, dan Vietnam.

dsc_0228dsc_0218

Berbekal perhitungan yang cermat dalam mengkombinasikan sudut elevasi roket pada peluncur, jumlah tekanan yang dipompakan, dan jumlah air yang ditambahkan ke dalam botol, membuat roket yang didesain oleh Bayu dan Alfian mencapai titik target 80 meter dari lokasi peluncuran. Faktor angin kencang yang sempat diprediksi akan menghambat laju roket, ternyata justru dapat dimaksimalkan sehingga roket mencapai titik target.

Seperti diketahui, para peserta yang mewakili Indonesia dalam KRAI 2016 ini telah melalui tiga tahap seleksi sebelumnya, yakni Kompetisi Roket Air Tingkat Regional yang dilaksanakan oleh science center atau institusi yang telah bekerjasama dan ditunjuk oleh Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP Iptek) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), sebagai institusi pelaksana kegiatan roket air tingkat regional. Pemenang dari masing-masing kompetisi tingkat regional ini kemudian mengikuti seleksi tingkat nasional, yakni pada Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) 2016, yang digelar di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, pada Oktober lalu. Para pemenang dari KRAN 2016 inilah yang berhak mengikuti KRAI 2016 di Filipina.

(Baca juga: 6 Pemenang KRAN 2016 Wakili Indonesia ke Filipina)

Sebelum keberangkatan menuju Filipina, para peserta dari Indonesia yang berjumlah 6 orang ini mendapat pembekalan materi dan bimbingan teknis di PP Iptek dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Pembekalan intensif ini bertujuan agar kemampuan siswa semakin terasah dalam membuat dan memperhitungkan daya luncur roket.

dsc_0052dsc_0187

Kompetisi roket air sendiri merupakan ajang adu kreativitas di bidang teknologi kedirgantaraan dimana roket air digunakan sebagai salah satu medianya, dengan tujuan untuk menumbuhkembangkan minat, kreativitas dan inovasi pelajar Indonesia terhadap pengembangan teknologi kedirgantaraan. Dalam kompetisi ini, peserta beradu keterampilan dalam mendesain dan meluncurkan roket air berdasarkan zona sasaran yang sudah ditentukan, mengacu pada aturan yang berlaku pada kompetisi tingkat internasional. PP Iptek sebagai science center pertama di Indonesia dan salah satu wahana pembelajaran iptek bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda, memiliki peran strategis dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia sesuai dengan visi dan misi yang diembannya. (PSP)

Malam Anugerah UTU Awards

Published by:

hotmatuaMeulaboh – Belmawa. Usai melaksanakan serangkaian kegiatan 2nd UTU Awards 2016, Universitas Teuku Umar menggelar kegiatan Malam Anugerah UTU Awards yang bertempat di komplek UTU, Sabtu malam 12/11/2016. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kegiatan tahunan UTU, dimana pada malam tersebut akan diberikan penghargaan kepada para nominator UTU Awards, Rektor CUP dan juga kepada para mahasiswa berprestasi tingkat universitas dan fakultas.

Hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang dalam hal ini diwakili oleh Direktur Pengembangan dan Teknologi Industri, Dr. Hotmatua Daulay, Gubernur Aceh yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur, Ir. Helvizar Ibrahim,M.Si, Rektor UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE, MBA, Wakil Rektor IV Universitas Syiah Kuala Dr. Nazamudin, SE, MA, Wakil Rektor IV Universitas Malikulsaleh Dr. Jullimursyida, SE, Ak, MM, Wakil Rektor II UTU, Dr. Ishak Hasan, M.Si, Wakil Rektor III T. Ahmad Yani, M.Hum, Dekan dan Kepala Biro di lingkungan Universitas Teuku Umar.

Rektor UTU, Prof.Jasman dalam sambutannya menyampaikan bahwa UTU Awards merupakan serangkaian kompetisi yang bertujuan untuk merangsang semangat jiwa berwirausaha sejak dini (entrepreneuship spirit) bagi mahasiswa. Adapun kompetisi tersebut terdiri dari 5 jenis kompetisi antara lain yaitu: 1) Perencanan Bisnis; 2) Desain Toko Online; 3) Karya Inovatif Berbasis Agro; 4) Riset Berbasis Entrepreneurship; dan 5) Catur Teuku Umar. Dengan adanya kompetisi ini, UTU tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas tetapi juga memiliki daya saing yang tinggi, cerdas, inovatif, dan semangat entreprenership yang tinggi dalam diri sarjana yangdbersangkutan.

“UTU Awards yang kedua ini (2nd UTU Awards-red), telah diikuti oleh mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi di Indonesia. Adapun jumlah  karya ilmiah yang masuk ke panitia mencapai 216 karya ilmiah. Berhubungan dengan itu, perguruan tinggi yang berpartisipasi pada kegiatan 2nd UTU Awards sebanyak 34 perguruan tinggi dari seluruhdIndonesia,”djelasdProf .dJasman.

“Sedangkan perguruan tinggi yang masuk dalam nominasi adalah 9 perguruan tinggi, meliputi: Institut Pertanian Bogor, Universitas Sumatera Utara, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Teuku Umar, masing-masing 3 tim mahasiswa. Sementara itu, Universitas Brawijaya, dan Universitas Malikulsaleh  masing-masing 2 tim mahasiswa. Selanjutnya Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia, Universitas Diponegoro, dan STAIN Teungku Dirundeng, masing-masing 1 tim mahasiswa,” ungkap Rektor UTU Prof. Jasman.

Sementara itu, Direktur Pengembangan dan Teknologi Industri Kementerian Ristek Dikti, Dr. Hotmatua Daulay dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada UTU yang sudah baru berumur jagung namun sudah mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan besar seperti itu. Dr. Hotmatua juga menyampaikan bahwa kampus UTU pada tahun 2030 yakin bisa menjadi kampus yang dikenal se-ASEAN, ia menyakini hal tersebut karena melihat seorang sosok Rektor  UTU Prof. Jasman yang kreatif, inovatif dan tentunya dengan dukungan dari semua tim, maka UTU akan mampu menjadi kampus yang maju seperti kampus-kampus lainnya di ASEAN.

Dikatakannya juga bahwa Kementerian Ristekdikti sangat mendukung kegiatan-kegiatan seperti UTU Awards tersebut, karena menurutnya kegiatan tersebut dapat menciptakan inovasi-inovasi baru dan ini sejalan tujuan dari Kementerian Ristekdikti. Ia berharap para nominator UTU Awards terus mengasah kemampuan dan menyempurnakan inovasinya agar nanti setelah lulus inovasi tersebut bisa dikembangkan dan akan menjadi sebuah perusahaan yang memproduksi inovasi itu.

“Di Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sudah menyiapkan dana insentif yang besar untuk pengembangan inovasi-inovasi tersebut,” tambah Dr. Hotmatua Daulay seraya menyemangati para mahasiswa untuk menciptakan inovasi baru. Diakhir kegiatan tersebut diumumkan para nominator-nominator UTU Award di 5 bidang yang menjadi pemenang. Bidang Produk Inovatif berbasis agro dan marine industry, juara I diraih oleh mahasiswa Universitas Brawijaya, juara II diraih oleh Universitas Syiah Kuala, Juara III diraih oleh Universitas Islam Indonesia, Harapan I diraih oleh Universitas Sumatera Utara, serta harapan II Universitas Syiah Kuala.

Bidang Riset Unggulan Berbasis Entrepreneurship, juara I diraih oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara, Juara II diraih oleh Institut Pertanian Bogor, Juara III diraih oleh Universitas Teuku Umar, harapan I diraih oleh Institut Pertanian Bogor serta harapan II diraih oleh Universitas Negeri Yogyakarta. sementara itu, untuk Bidang Toko Online, Juara I diraih oleh mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng, Juara II diraih oleh Institut Pertanian Bogor, Juara III diraih oleh Universitas Malikulsaleh, Harapan I Universitas Malikulsaleh serta harapan II diraih oleh Universitas Teuku Umar.

Bidang perencanaan bisnis, juara I diraih oleh mahasiswa Universitas Brawijaya, Juara II diraih oleh Universitas Diponegoro, Juara III diraih oleh Universitas Syiah Kuala, Harapan I diraih oleh Universitas Sumatera Utara, serta harapan II diraih oleh Universitas Teuku Umar. Untuk bidang Catur Teuku Umar, Juara I, II, III dan Harapan I dan II diraih oleh mahasiswa Universitas Teuku Umar.  (Ikhsan SE/Editor/HKLI)

Kemenristekdikti Dorong DRN Jabarkan Hilirisasi Dalam Dokumen Tertulis

Published by:

JAKARTA – Arah dan prioritas utama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam mendorong dan meningkatkan daya saing bangsa adalah dengan menyediakan tenaga terampil dan hilirisasi. Dalam konteks penguatan riset dan inovasi, terminologi hilirisasi masih menjadi sesuatu yang perlu dibedah para pakar. Sudah setahun lebih term hilirisasi ini bergulir, namun belum dirumuskan menjadi dokumen tertulis yang dapat dijadikan sebagai rujukan para birokrat dan stakeholder Ristekdikti dalam mengimplementasikan kebijakan. Padahal hilirisasi menjadi salah satu kunci penting dalam mendorong daya saing. Untuk itu, Dewan Riset Nasional (DRN) diharapkan dapat berperan dalam menjabarkan term hilirisasi dalam dokumen tertulis.

Hal itu dipaparkan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, M.Dimyati, ketika tampil sebagai pembicara kunci dalam Seminar Nasional bertema “Mencari Terobosan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Nasional “ yang digelar DRN di Auditorium Gedung BPPT II Jakarta, Senin (14/10).

Seminar yang digelar dalam rangka Sidang Paripurna II tahun 2016 tersebut, diikuti perwakilan sejumlah lembaga stakeholder Ristekdikti dari Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK), anggota DRN maupun Dewan Riset Daerah. Nara sumber yang ditampilkan berasal dari berbagai lembaga, antara lain adalah Jumain Appe (Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti) memaparkan materi berjudul “Dukungan Kebijakan Riset dan Inovasi untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri; M Firmansyah Arifin (Direktur Utama PT PAL) dengan materi berjudul “Dukungan Kebijakan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Perkapalan”; Tri Hardono (dari PT INKA) memaparkan materi berjudul “Dukungan Kebijakan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Perkeretaapian”; dan Ahmad Sobandi (dari PT Krakatau Posco) memaparkan materi berjudul “Dukungan Kebijakan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Baja”.

Dimyati mengatakan, DRN dibentuk untuk membantu pemerintah dalam merumuskan arah, prioritas utama, dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Sebagai gudang pakar, DRN diharapkan dapat secara aktif mengkaji berbagai aspek perkembangan Iptek yang diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan pembangunan nasional,” jelas Dimyati.

Dalam kesempatan ini, Dimyati juga memaparkan berbagai tantangan yang sedang dihadapi Indonesia, seperti rendahnya daya saing dan rendahnya dana riset. Menurut Dimyati, kualitas lembaga riset di Indonesia memang terjadi peningkatan, demikian juga kolaborasi antara industry dan perguruan tinggi. Namun, tegas Dimyati, Indonesia harus bekerja lebih keras dan cerdas, serta meningkatkan sinergi antar lembaga terkait. Sebab, jika dibandingkan dengan Negara lain, dunia iptek Indonesia masih tertinggal.

“Kita masih banyak tertinggal. Inovasi yang digunakan di dalam negeri, masih 58% berasal dari luar,” paparnya.

Ketua DRN Bambang S mengatakan, seminar ini merupakan upaya DRN untuk menghimpun pemikiran dan rumusan kebijakan yang akan diserahkan kepada pemerintah melalui Menteri Riset Teknologi dan dan Pendidikan Tinggi. Kenapa mengambil tema “Mencari Terobosan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Nasional“? Menurut Bambang, selain sesuai Nawa Cita ke enam Presiden RI, daya saing adalah parameter pembangunan yang diturunkan dan terkait paling signifikan dengan Riset dan Inovasi. (SUT)