Category Archives: Info RistekDikti

Program NUSANTARA 2017

Published by:

Pemerintah Indonesia bersama dengan Pemerintah Prancis kembali meluncurkan Program NUSANTARA 2017. NUSANTARA merupakan program pendanaan penelitian bersama antara Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia dan Kementerian Luar Negeri dan Perkembangan Internasional Prancis. Program ini mendukung seluruh proyek penelitian yang diusulkan oleh pusat-pusat penelitian. Proyek penelitian yang dapat diajukan mencakup berbagai bidang penelitian seperti: teknologi pangan, energi, kesehatan, kelautan, teknologi transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, ilmu sosial, perubahan iklim, dan penanggulangan bencana. Pengusulan proposal penelitian ini terbuka bagi seluruh universitas, institusi penelitian sektor publik, dan perusahaan swasta.

Continue reading

Membangun Sinergi, Pererat Kolaborasi Ristekdikti Indonesia dan Perancis

Published by:

Jakarta – Belmawa. Indonesia dan Perancis telah menandatangani Perjanjian Iptek antar kedua Negara dari tahun 1979. Sejak itu, telah banyak kerjasama Iptek dan Inovasi yang telah dilakukan.

Salah satunya adalah penciptaan Program Nusantara yang telah dibangun sejak tahun 2008. Semenjak program ini diluncurkan, kemitraan Ristek dan Inovasi terus bergulir, yang mengakibatkan jumlah kerjasamanya semakin meningkat.

Continue reading

Lomba Debat Berbahasa Inggris Tahun 2017

Published by:

Lomba Debat Berbahasa Inggris Tahun 2017

Lomba Debat Berbahasa Inggris Tahun 2017. Dalam rangka peningkatan daya saing lulusan di era global, Direktorat Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan setiap tahun mengadakan lomba debat berbahasa Inggris, National University Debating Championship (NUDC) yang pada tahun ini akan dilaksanakan pada tanggal 3 s.d. 8 September 2017.

Continue reading

Penyelenggaraan Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ON MIPA-PT) Tahun 2017

Published by:

Penyelenggaraan Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan

Penyelenggaraan Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ON MIPA-PT) Tahun 2017.Dalam rangka peningkatan kemampuan akademik dan wawasan mahasiswa bidang MIPA, Direktorat Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemristekdikti kembali menyelenggarakan Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ON MIPA-PT) tahun 2017.

Continue reading

Pengumuman Kuota PPG tahun 2017

Published by:

Pengumuman Kuota PPG tahun 2017

Pengumuman Kuota PPG tahun 2017. Pertama-tama kami mengucapkan terimakasih dan apresiasi atas kerjasama yang baik dalam pelaksanaan “Program Pendidik dan Calon Pendidik Mengikuti Pendidikan Profesi Guru.” Selanjutnya, Program PPG SM-3T Angkatan IV tahun 2016 telah berjalan dengan sukses berkat dedikasi yang tinggi dari para Pimpinan dan sivitas akademika Perguruan Tinggi Penyelenggara. Sebagaimana diketahui bahwa hasil Uji Kompetensi Profesi Guru diperoleh tingkat kelulusan 90,36% dengan Passing Grade 65 (enam puluh lima).

Continue reading

Menuju World Class University Dalam Workshop Joint Curriculum and Credit Transfer di Manila

Published by:

Menuju World Class University Dalam Workshop Joint Curriculum

Manila – Belmawa.  Setiap Perguruan Tinggi (PT) yang sudah maju tentu memiliki visi misi untuk menuju world class university (WCU). Berbagai upaya diusahakan untuk mewujudkannya, termasuk dukungan internasionalisasi terhadap seluruh sivitas akademika dan mahasiswa. Walaupun saat ini, tak satu pun PT Indonesia masuk dalam kategori WCU, baik versi The Times Higher Education Supplement (THES), Academic Ranking of World Universities (ARWU), maupun Webomatrics. Begitu bunyi data dan statistik internasional terbaru (2016).

Continue reading

Menristekdikti : Kebutuhan Dalam Negeri Mulai Terpenuhi dari Industri Indonesia

Published by:

Menristekdikti : Kebutuhan Dalam Negeri Mulai Terpenuhi dari Industri Indonesia

JAKARTA – “Hasil riset jangan hanya berhenti di library (perpustakaan) saja, tapi riset ke depan harus menghasilkan suatu inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, apakah masyarakat industri atau masyarakat pada umumnya,” demikian kalimat yang selalu di tekankan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di hadapan para peneliti.

Continue reading

Australia – Indonesia Tandatangani Perjanjian Teknologi dan Inovasi

Published by:

JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI dan The Australian Commonwealth and Scientific Industrial Research Organization (CSIRO) hari ini, Selasa, 22 November 2016, menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) tentang kolaborasi di bidang riset dan teknologi. Bersamaan dengan itu, turut pula dilakukan penandatanganan Perjanjian Pengaturan Pelaksanaan (Implementing Arrangement) untuk program Applied Research and Innovation System in Agriculture (ARISA), sebuah program yang diimplementasikan oleh CSIRO dengan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia. Penandatanganan dilakukan oleh delegasi Australia yang dipimpin oleh Dr. Andrew Ash dan Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemristekdikti, Dr. Jumain Appe.

Ruang lingkup nota kesepahaman antara Kemenristekdikti dan CSIRO termasuk didalamnya (i) kolaborasi program-program dan proyek-proyek untuk meningkatkan inovasi di bidang kerjasama bisnis dan penelitian di sektor publik dan swasta, (ii) memberikan kontribusi diskusi dan bukti-bukti bagi para pembuat kebijakan (iii) pertukaran dan kunjungan para ilmuwan, peneliti, dosen, ahli atau personel teknis lainnya, (iv) pertukaran informasi dan dokumen inovasi iptek, (v) pertukaran materi dan peralatan yang dibutuhkan dalam kerjasama. Kemudian terjalinnya (vi) pertemuan, konferensi ilmiah, seminar, lokakarya dan pameran inovasi iptek bersama antara kedua belah pihak. Lalu (vii) pengembangan dan penguatan unit intermediasi, pendidikan, pelatihan dan partisipasi pada program yang sedang berjalan dan bentuk-bentuk lain kerjasama iptek yang nantinya dapat diputuskan bersama-sama oleh kedua belah pihak di kemudian hari.

ARISA merupakan bagian dari program Rural Economic Development yang mendorong kerjasama sektor swasta dengan petani dan universitas atau lembaga riset lain yang mempunyai inovasi di bidang pertanian dan belum pernah diterapkan.

ARISA sendiri ditujukan guna membantu petani-petani kecil di wilayah timur Indonesia, untuk meningkatkan pendapatan mereka setidaknya sebesar 30% melalui produk inovasi.

Andrew Ash mengatakan aktifitas proyek ARISA yang ditujukan untuk peningkatan inovasi di bidang argiculture selama beberapa tahun ini telah dilakukan antara lain di Malang, Lombok, Madura, Jember, NTB, Pulau Sumbawa, dan daerah lainnya.

Senior Program Manager Rural Development Australia Embassy, Rani Noerhadhie, menyebutkan nilai program tersebut mencapai 120 juta dolar Australia, sampai jangka waktu 2018 mendatang. Program ini bekerja di 5 provinsi di Indonesia yaitu JATIM, NTB, NTT, PAPUA, dan PAPUA BARAT.

“Ini ditujukan untuk 300.000 petani miskin di timur Indonesia,” imbuhnya.

Australia sangat bangga dapat bekerjasama dengan Indonesia dalam membantu pengembangan inovasi teknologi. Australia merupakan Negara yang berada di garis depan dalam inovasi global. Mereka berharap dapat tumbuh dan berkembang bersama Indonesia dalam hal ini. Seperti kita ketahui, kolaborasi adalah kunci dalam memajukan masyarakat melalui inovasi.

Melalui kolaborasi CSIRO di bawah nota kesepahaman dan perjanjian kerjasama ini, Indonesia dapat mengembangkan kapasitasnya dengan memperkuat inovasi sehingga dapat menghadapi tantangan pembangunan.

Indonesia ingin memanfaatkan keahlian Australia dan membangun kerjasama yang seimbang dengan belajar praktek-praktek terbaik dan melakukan proyek-proyek bersama. Tahun ini akan menandai apa yang diharapkan menjadi kolaborasi bilateral jangka panjang yang bermanfaat di bidang ilmu pengetahuan dan inovasi.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi, Jumain Appe mengatakan tujuan utama dari kerjasama ini tidak lain adalah untuk memperkuat ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi bagi pengembangan kapasitas industri dan usaha-usaha kecil, didalam membangun ekonomi berorientasi global melalui peningkatan keunggulan kompetitif dengan menyediakan kesempatan bagi perusaaan pemula, sehingga dapat tumbuh dan berkembang. Hingga pada akhirnya dapat berkontribusi dalam meningkatkan daya saing kompetitif bagi perekonomian nasional.

“Saya kira ini sejalan dengan apa yang kita lakukan di Kemenristekdikti, dimana kami mendorong penguatan inovasi yang dapat mensejahterakan rakyat. Kerjasama ini dapat diimplementasikan di berbagai area,” ujarnya. (APS)

Menristekdikti Buka Pertemuan Tahunan LAM PT Kesehatan

Published by:

JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir membuka Pertemuan Tahunan Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM PTKES) Indonesia

yang digelar di Century Park Hotel Jakarta, Sabtu (19/11). Selain dihadiri para pengurus organisasi asosiasi institusi pendidikan tinggi kesehatan dan perwakilan perguruan tinggi, Pertemuan Tahunan LAM PTKES tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat Kemenristekdikti; antara lain Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek Dikti Patdono Suwignyo dan Direktur Jenderal Pembelajaraan dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) Intan Ahmad.

Pada kesempatan ini Menristekdikti juga didaulat sebagai pembicara kunci pada Seminar bertema “Peran LAM PTKes dalam Peningkatan Mutu Berkelanjutan Program Studi Kesehatan Melalui Akreditasi di Masa Mendatang”.

Nasir mengatakan, indeks daya saing global Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan. Maka sudah selayaknya perguruan tinggi ikut berupaya meningkatkan mutu. “Jadi sangat tepat jika LAM PTKes menggelar seminar bertema Peningkatan Mutu Berkelanjutan,” jelas Nasir.

Khusus untuk pendidikan kesehatan, lanjut Nasir, masih harus diperhatikan. “Jadi masalah pendidikan kesehatan merupakan salah satu yang harus mendapat perhatian. Maka itu saya ingin mendorong LAM PTKes – sebagai anak pertama BAN PT – agar bekerja lebih baik dalam peningkatan mutu untuk memperkuat daya saing bangsa. Mudah-mudahan akan segera lahir LAM PT Teknik dan yang lainnya,” tegas Nasir.

Dalam laporannya, Ketua Umum LAM PTKES Usman Chatib Warsa, mengatakan, LAM PTKes bertekad akan mendorong program studi kesehatan bisa dikenal dan diakui secara global sesuai visi misi LAM PTKES sendiri.

Dalam acara ini Menristekdikti menyerahkan sertifikat akreditasi sejumlah perguruan tinggi dari berbagai daerah Indonesia. Penyerahan sertifikat akreditasi ini didampingi Ketua Umum LAM PTKES Usman Chatib Warsa dan sejumlah pejabat lain. (SUT)

Standar Membangun Kepercayaan Dunia

Published by:

JAKARTA – Tidak diragukan lagi bahwa masyarakat didunia menyadari akan pentingnya ‘standar’ dalam era globalisasi ini. Tidak dapat dibayangkan apabila ‘dunia’ berkembang, tanpa standar yang jelas.

Seiring dengan pergerakan dunia menuju ‘ekonomi global’ yang terpacu dengan perubahan teknologi yang sangat cepat, masalah standar menjadi isu yang sangat strategis. Selain itu, persaingan antar negara, terutama dalam penentuan daya saing bangsa semakin ketat. Oleh sebab itu, ‘standar’ merupakan sarana untuk membangun daya saing bangsa. Lebih lagi, ‘standar’ dapat digunakan untuk menjadi ‘pertahanan’ suatu bangsa dari serbuan produk luar negeri.

Memperingati Hari Standar Dunia dan Bulan Mutu Nasional tahun 2016, Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyelenggarakan berbagai kegiatan, yang melibatkan pemangku kepentingan standardisasi dan penilaian kesesuaian di seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut antara lain adalah (i) Sosialisasi SNI ISO 31000 Manajemen Risiko untuk Sektor Publik, (ii) Seminar Penerapan SNI ISO/IEC 17024 untuk Daya Saing SDM, (iii) Workshop Pemahaman SNI ISO 15189:2012, (iv) Workshop Pemahaman SNI ISO/IEC 17025:2008. Puncak acara peringatan ‘Hari Standar Dunia dan Bulan Mutu Nasional’ dilaksanakan pada tanggal 16 November 2016 di Auditorium, Gedung II BPPT Jakarta. ‘World Standard Day 2016’ mengusung tema ‘Standard Build Trust’. Tema ini digunakan juga untuk memperingati Bulan Mutu Nasional 2016.

Acuan standar di Indonesia yang ditetapkan melalui Standar Nasional Indonesia (SNI), berperan penting mendorong daya saing produk nasional, dalam rangka penguasaan pasar domestik dan Internasional. Di samping itu, SNI juga untuk melindungi pasar domestik dari barang-barang berstandar dan mutu rendah dari luar. Indonesia telah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN sejak 1 Januari 2016, oleh sebab itu, produk barang maupun jasa domestik harus dapat memenuhi standar dan mutu Internasional, agar tidak tergerus produk impor.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan ‘Di era perdagangan bebas ini, kita tidak boleh membuat pembatasan impor dengan meninggikan bea masuk. Oleh sebab itu ‘Standar’ dapat digunakan sebagai ‘penyeleksi’ atau ‘penghalang’ barang masuk, dalam bentuk ‘bukan bea masuk’ atau ‘non-tariff barrier’.

Selanjutnya, Menteri Nasir mengatakan bahwa ‘Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya penerapan standar tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Pemerintah harus mendorong pemahaman sistem mutu baik bagi pelaku usaha maupun konsumen. Saya sangat mendukung BSN dalam memasyarakatkan SNI’, ujar Menteri Nasir di Gedung II BPPT, Rabu 16 November 2016.

Kementerian Riset dan Teknologi pada tahun 2007, sebelum bergabung dengan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi di tahun 2014, bekerjasama dengan BSN dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), telah memulai kegiatan ‘standardisasi’ berdasarkan kebutuhan standar di bidang penanganan bencana alam yang maha dahsyat, pada saat terjadi bencana Tsunami di Aceh. ‘Seharusnya Indonesia dapat menjadi pencetus standar penanggulangan bencana karena sangat rawan terhadap bencana. Indonesia memiliki tingkat resiko yang sangat tinggi. Oleh sebab itu saya sangat mendukung penyelenggaraan acara Seminar Nasional dengan judul “Penerapan SNI ISO 31000 Manajemen Resiko Sebagai Upaya Membangun Kepercayaan Publik”, imbuh Menristekdikti.

Dalam dunia usaha, tentu resiko tidak hanya ditimbulkan oleh bencana alam saja, namun oleh berbagai macam hal. Resiko selalu membayangi semua organisasi. Resiko, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi menimbulkan kerugian yang sangat besar. Kerugian akan berpengaruh terhadap organisasi dalam hal ekonomi, reputasi, lingkungan hidup, keselamatan dan dampak sosial. Oleh sebab itu pengelolaan resiko harus dilaksanakan oleh semua organisasi agar dapat berkinerja tinggi, di tengah situasi yang sangat dinamis saat ini.

‘ISO 31000:2009’ memberikan prinsip dasar dan pedoman dalam pengelolaan resiko. Pedoman ini dapat digunakan oleh semua jenis organisasi besar maupun kecil yang bergerak di bidang apapun. ISO 31000 dapat membantu organisasi mengenali kesempatan dan ancaman serta pengalokasian sumber daya untuk menanggulangi resiko. Oleh karena itu, penerapan ISO 31000 harus digalakkan.

Adapun beberapa acara yang diselenggarakan BSN guna mendukung penerapan standar, diantaranya (i) Seminar Nasional Manajemen Risiko, (ii) Forum Pendidikan Standardisasi (FORSTAN), (iii) ISO Training For New Work Item Proposal (NWIP), (iv) Pelatihan Manajemen Risiko berbasis SNI ISO 31000, JISC/BSN Workshop on Inter-operability Card Standardization, (v) Workshop Skema Penilaian SNI ISO/IEC 17065:2012, serta BaliERM2016 International Conference on Enterprise Risk Management. Bulan Mutu Nasional telah dijadikan momentum untuk melakukan berbagai kegiatan konsolidasi dan pemutakhiran informasi yang terkait dengan penguatan infrastruktur mutu (standardisasi, akreditasi, sertifikasi, inspeksi, dan lain-lain).

Pada kesempatan ini juga dilaksanakan penandatanganan MOU oleh Menteri Dalam Negeri bersama Kepala BSN, Kepala BSN bersama Gubernur Sumatera Selatan dan Bupati Sumedang, Kepala BSN bersama Rektor Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Magelang, Universitas Islam Indonesia, Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan Universitas Pancasila.

Selain itu juga dilaksanakan, penyerahan sertifikat akreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN), penyerahan penghargaan komite teknis perumusan SNI terbaik “Herudi Technical Committee award (HTCA) 2016” dan penganugerahan SNI award 2016. Di samping itu, BSN juga menganugerahi penghargaan kepada 40 pelaku usaha di berbagai bidang yang konsisten dalam menerapkan SNI.

Indonesia Bawa Dua Piala di Kompetisi Roket Air Internasional 2016

Published by:

Dua siswa Indonesia berhasil membawa pulang piala dalam Kompetisi Roket Air Internasional (KRAI) 2016 yang diselenggarakan di University of the Philippines Los Baños, Filipina pada 12 – 13 November 2016. Keduanya adalah Bayu Dwi Tjahyono, siswa SMPN 5 Kebumen yang berhasil menyabet juara kedua, dan Alfian Pebriansyah, siswa SMKN 4 Pontianak yang berhasil meraih juara ketiga. Dalam ajang yang rutin digelar oleh Asia Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF) sejak tahun 2005 ini, sebanyak 54 peserta saling unjuk kreativitas dan keterampilan untuk mengalahkan para pesaingnya dari 13 negara berbeda, yakni Bangladesh, China, India, Jepang, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Nepal, Pakistan, Singapura, Srilanka, Thailand, dan Vietnam.

dsc_0228dsc_0218

Berbekal perhitungan yang cermat dalam mengkombinasikan sudut elevasi roket pada peluncur, jumlah tekanan yang dipompakan, dan jumlah air yang ditambahkan ke dalam botol, membuat roket yang didesain oleh Bayu dan Alfian mencapai titik target 80 meter dari lokasi peluncuran. Faktor angin kencang yang sempat diprediksi akan menghambat laju roket, ternyata justru dapat dimaksimalkan sehingga roket mencapai titik target.

Seperti diketahui, para peserta yang mewakili Indonesia dalam KRAI 2016 ini telah melalui tiga tahap seleksi sebelumnya, yakni Kompetisi Roket Air Tingkat Regional yang dilaksanakan oleh science center atau institusi yang telah bekerjasama dan ditunjuk oleh Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP Iptek) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), sebagai institusi pelaksana kegiatan roket air tingkat regional. Pemenang dari masing-masing kompetisi tingkat regional ini kemudian mengikuti seleksi tingkat nasional, yakni pada Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) 2016, yang digelar di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, pada Oktober lalu. Para pemenang dari KRAN 2016 inilah yang berhak mengikuti KRAI 2016 di Filipina.

(Baca juga: 6 Pemenang KRAN 2016 Wakili Indonesia ke Filipina)

Sebelum keberangkatan menuju Filipina, para peserta dari Indonesia yang berjumlah 6 orang ini mendapat pembekalan materi dan bimbingan teknis di PP Iptek dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Pembekalan intensif ini bertujuan agar kemampuan siswa semakin terasah dalam membuat dan memperhitungkan daya luncur roket.

dsc_0052dsc_0187

Kompetisi roket air sendiri merupakan ajang adu kreativitas di bidang teknologi kedirgantaraan dimana roket air digunakan sebagai salah satu medianya, dengan tujuan untuk menumbuhkembangkan minat, kreativitas dan inovasi pelajar Indonesia terhadap pengembangan teknologi kedirgantaraan. Dalam kompetisi ini, peserta beradu keterampilan dalam mendesain dan meluncurkan roket air berdasarkan zona sasaran yang sudah ditentukan, mengacu pada aturan yang berlaku pada kompetisi tingkat internasional. PP Iptek sebagai science center pertama di Indonesia dan salah satu wahana pembelajaran iptek bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda, memiliki peran strategis dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia sesuai dengan visi dan misi yang diembannya. (PSP)

Kemenristekdikti Dorong DRN Jabarkan Hilirisasi Dalam Dokumen Tertulis

Published by:

JAKARTA – Arah dan prioritas utama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam mendorong dan meningkatkan daya saing bangsa adalah dengan menyediakan tenaga terampil dan hilirisasi. Dalam konteks penguatan riset dan inovasi, terminologi hilirisasi masih menjadi sesuatu yang perlu dibedah para pakar. Sudah setahun lebih term hilirisasi ini bergulir, namun belum dirumuskan menjadi dokumen tertulis yang dapat dijadikan sebagai rujukan para birokrat dan stakeholder Ristekdikti dalam mengimplementasikan kebijakan. Padahal hilirisasi menjadi salah satu kunci penting dalam mendorong daya saing. Untuk itu, Dewan Riset Nasional (DRN) diharapkan dapat berperan dalam menjabarkan term hilirisasi dalam dokumen tertulis.

Hal itu dipaparkan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, M.Dimyati, ketika tampil sebagai pembicara kunci dalam Seminar Nasional bertema “Mencari Terobosan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Nasional “ yang digelar DRN di Auditorium Gedung BPPT II Jakarta, Senin (14/10).

Seminar yang digelar dalam rangka Sidang Paripurna II tahun 2016 tersebut, diikuti perwakilan sejumlah lembaga stakeholder Ristekdikti dari Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK), anggota DRN maupun Dewan Riset Daerah. Nara sumber yang ditampilkan berasal dari berbagai lembaga, antara lain adalah Jumain Appe (Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti) memaparkan materi berjudul “Dukungan Kebijakan Riset dan Inovasi untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri; M Firmansyah Arifin (Direktur Utama PT PAL) dengan materi berjudul “Dukungan Kebijakan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Perkapalan”; Tri Hardono (dari PT INKA) memaparkan materi berjudul “Dukungan Kebijakan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Perkeretaapian”; dan Ahmad Sobandi (dari PT Krakatau Posco) memaparkan materi berjudul “Dukungan Kebijakan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Baja”.

Dimyati mengatakan, DRN dibentuk untuk membantu pemerintah dalam merumuskan arah, prioritas utama, dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Sebagai gudang pakar, DRN diharapkan dapat secara aktif mengkaji berbagai aspek perkembangan Iptek yang diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan pembangunan nasional,” jelas Dimyati.

Dalam kesempatan ini, Dimyati juga memaparkan berbagai tantangan yang sedang dihadapi Indonesia, seperti rendahnya daya saing dan rendahnya dana riset. Menurut Dimyati, kualitas lembaga riset di Indonesia memang terjadi peningkatan, demikian juga kolaborasi antara industry dan perguruan tinggi. Namun, tegas Dimyati, Indonesia harus bekerja lebih keras dan cerdas, serta meningkatkan sinergi antar lembaga terkait. Sebab, jika dibandingkan dengan Negara lain, dunia iptek Indonesia masih tertinggal.

“Kita masih banyak tertinggal. Inovasi yang digunakan di dalam negeri, masih 58% berasal dari luar,” paparnya.

Ketua DRN Bambang S mengatakan, seminar ini merupakan upaya DRN untuk menghimpun pemikiran dan rumusan kebijakan yang akan diserahkan kepada pemerintah melalui Menteri Riset Teknologi dan dan Pendidikan Tinggi. Kenapa mengambil tema “Mencari Terobosan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Nasional“? Menurut Bambang, selain sesuai Nawa Cita ke enam Presiden RI, daya saing adalah parameter pembangunan yang diturunkan dan terkait paling signifikan dengan Riset dan Inovasi. (SUT)