Mia Islamidewi : Pengalaman Pertama Menjadi Volunteer

Pontianak, IKOM FISIP UNTAN-Mengajar bagi saya bukanlah hal yang asing. Saya terlahir dari keluarga pendidik. Sejak saya di sekolah dasar, sepulang sekolah, saya sering ikut Ibu saya mengajar. Bahkan, untuk kuliah, awalnya saya memilih FKIP tetapi, akhirnya saya memutuskan Ilmu Komunikasi pada urutan pertama. Saya sempat memupuskan harapan untuk menggeluti dunia pendidikan, namun ternyata rejeki saya mengajar ada di komunitas ini.

Suatu hari tanpa sengaja, saya melihat unggahan foto dari seorang teman di media sosial instagram yang berisi tentang open recruitment komunitas bernama Aku Belajar (AB). Dengan pertimbangan yang matang, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar. Tetapi pada saat proses wawancara, saya tidak dapat pemberitahuan melalui pesan singkat, seperti yang diceritakan teman saya bahwa ia mendapat pesan singkat panggilan untuk wawancara. Ternyata, semua yang mendaftar mendapatkan panggilan untuk wawancara tetapi saya tidak dapat pesan singkat karena nomor telepon yang saya isi pada data tempo hari ialah nomor yang salah. Setelah mendapat pemberitahuan lewat telepon, saya pergi ke tempat wawancara. Beberapa hari kemudian, nama saya termasuk dalam 20 daftar volunteer AB Batch 6.

Di komunitas AB ini kami, para volunteer, tidak hanya sekedar mengajar tetapi kami juga belajar. Khususnya saya pribadi, karena selain terdapat agenda rutin yaitu volunteer school, serta beberapa kali evaluasi, saya juga belajar dari teman-teman di sini tentang perjuangan dan keikhlasan serta ketulusan. Karena kondisi di lapangan tidaklah selalu mulus, terdapat banyak sekali hambatan seperti cuaca misalnya, tapi mereka selalu bersemangat berangkat mengajar meski hujan deras atau panas terik serta perjalanan yang cukup jauh dari rumah terlebih lagi banyak teman-teman volunteer lain yang kegiatan dari Senin hingga Jumat yang padat, bahkan ada yang sudah bekerja dan kuliah sekalian bekerja. Tetapi tidak menurunkan semangat untuk merelakan waktu akhir pekan menempuh perjalanan cukup jauh ke lokasi mengajar yaitu di kawasan Tempat Pembuangan Akhri (TPA) Batu Layang. Kami sepakat bahwa lokasi tersebut adalah surga kecil tersembunyi, karena menurut pengakuan beberapa teman sesama volunteer, jika datang ke sana seolah-olah beban atau masalah mereka mendadak terlupakan karena menikmati waktu bersama anak-anak, dan saya sangat setuju itu.

Saya sangat senang karena akhirnya saya dapat mewujudkan keinganan saya yaitu mengajar, khususnya anak-anak. Setelah menjalani masa pelatihan, magang serta proses lainya, pada akhir Oktober saya bersama Volunteer lain serta kakak PS (Project Supervisor) turun ke lokasi mengajar yang berada persis di depan TPA Batu Layang untuk mendata para calon murid dan mempersiapkan lokasi mengajar. Lokasi mengajar ini tidak jauh dari rumah saya, hanya membutuhkan kurang lebih 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.  Di sini, saya mengajar kelas 1 pada hari Sabtu  dan mengajar minat bakat bagian Menggambar pada hari Minggu. Saya tidak mengajar sendiri, tetapi bersama dengan satu orang Volunteer lain dan di sini saya belajar kerja sama merencanakan materi apa yang akan dibawakan nantinya. Pada hari Sabtu, murid yang kelas 1 memang tidak banyak, tidak mencapai 10 orang tapi kalau hari Minggu, murid kelas gambar hampir berjumlah 30 orang.

Perasaan yang paling membuat bahagia ialah ketika sampai di lokasi, belum sempat memarkirkan motor dengan benar, anak-anak sudah meneriakkan nama kami disertai senyuman. Bahkan mereka terkadang menyerbu kami yang masih duduk di atas motor baru saja ingin meletakkan helm, mereka sudah datang meminta salam dan bertanya “Kak, hari ini belajar ape?”. Itulah surga sederhana kami. Lebih lagi pada saat cuaca serta suasana mendukung untuk bermain-main di “Gunung Pelangi”. Gunung Pelangi adalah gunungan sampah raksasa yang ternyata saat bermain di sana dapat membuat bahagia. Tetapi dengan catatan tetap hati-hati karena terdapat pecahan kaca atau beling. Tetapi anak-anak dengan santainya mendaki gunung pelangi penuh keceriaan. jika cuaca sedang tidak bersahabat, gunung pelangi akan menyebarluaskan aroma yang tidak sedap. Dan pada suatu hari ada seorang murid bertanya “Kakak kok mau ngajar di sini, kan bau sampah?”

Tidak ada jawaban selain senyuman. Senyuman anak-anak yang menjadi semangat saya dan teman-teman lain. Semangat belajar anak-anak yang membuat saya dan teman-teman tersenyum. (mia)

Kami dan "Gunung Pelangi"

Kami dan “Gunung Pelangi”

 

Leave a Reply