Daily Archives: November 15, 2016

Malam Anugerah UTU Awards

Published by:

hotmatuaMeulaboh – Belmawa. Usai melaksanakan serangkaian kegiatan 2nd UTU Awards 2016, Universitas Teuku Umar menggelar kegiatan Malam Anugerah UTU Awards yang bertempat di komplek UTU, Sabtu malam 12/11/2016. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kegiatan tahunan UTU, dimana pada malam tersebut akan diberikan penghargaan kepada para nominator UTU Awards, Rektor CUP dan juga kepada para mahasiswa berprestasi tingkat universitas dan fakultas.

Hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang dalam hal ini diwakili oleh Direktur Pengembangan dan Teknologi Industri, Dr. Hotmatua Daulay, Gubernur Aceh yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur, Ir. Helvizar Ibrahim,M.Si, Rektor UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE, MBA, Wakil Rektor IV Universitas Syiah Kuala Dr. Nazamudin, SE, MA, Wakil Rektor IV Universitas Malikulsaleh Dr. Jullimursyida, SE, Ak, MM, Wakil Rektor II UTU, Dr. Ishak Hasan, M.Si, Wakil Rektor III T. Ahmad Yani, M.Hum, Dekan dan Kepala Biro di lingkungan Universitas Teuku Umar.

Rektor UTU, Prof.Jasman dalam sambutannya menyampaikan bahwa UTU Awards merupakan serangkaian kompetisi yang bertujuan untuk merangsang semangat jiwa berwirausaha sejak dini (entrepreneuship spirit) bagi mahasiswa. Adapun kompetisi tersebut terdiri dari 5 jenis kompetisi antara lain yaitu: 1) Perencanan Bisnis; 2) Desain Toko Online; 3) Karya Inovatif Berbasis Agro; 4) Riset Berbasis Entrepreneurship; dan 5) Catur Teuku Umar. Dengan adanya kompetisi ini, UTU tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas tetapi juga memiliki daya saing yang tinggi, cerdas, inovatif, dan semangat entreprenership yang tinggi dalam diri sarjana yangdbersangkutan.

“UTU Awards yang kedua ini (2nd UTU Awards-red), telah diikuti oleh mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi di Indonesia. Adapun jumlah  karya ilmiah yang masuk ke panitia mencapai 216 karya ilmiah. Berhubungan dengan itu, perguruan tinggi yang berpartisipasi pada kegiatan 2nd UTU Awards sebanyak 34 perguruan tinggi dari seluruhdIndonesia,”djelasdProf .dJasman.

“Sedangkan perguruan tinggi yang masuk dalam nominasi adalah 9 perguruan tinggi, meliputi: Institut Pertanian Bogor, Universitas Sumatera Utara, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Teuku Umar, masing-masing 3 tim mahasiswa. Sementara itu, Universitas Brawijaya, dan Universitas Malikulsaleh  masing-masing 2 tim mahasiswa. Selanjutnya Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia, Universitas Diponegoro, dan STAIN Teungku Dirundeng, masing-masing 1 tim mahasiswa,” ungkap Rektor UTU Prof. Jasman.

Sementara itu, Direktur Pengembangan dan Teknologi Industri Kementerian Ristek Dikti, Dr. Hotmatua Daulay dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada UTU yang sudah baru berumur jagung namun sudah mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan besar seperti itu. Dr. Hotmatua juga menyampaikan bahwa kampus UTU pada tahun 2030 yakin bisa menjadi kampus yang dikenal se-ASEAN, ia menyakini hal tersebut karena melihat seorang sosok Rektor  UTU Prof. Jasman yang kreatif, inovatif dan tentunya dengan dukungan dari semua tim, maka UTU akan mampu menjadi kampus yang maju seperti kampus-kampus lainnya di ASEAN.

Dikatakannya juga bahwa Kementerian Ristekdikti sangat mendukung kegiatan-kegiatan seperti UTU Awards tersebut, karena menurutnya kegiatan tersebut dapat menciptakan inovasi-inovasi baru dan ini sejalan tujuan dari Kementerian Ristekdikti. Ia berharap para nominator UTU Awards terus mengasah kemampuan dan menyempurnakan inovasinya agar nanti setelah lulus inovasi tersebut bisa dikembangkan dan akan menjadi sebuah perusahaan yang memproduksi inovasi itu.

“Di Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sudah menyiapkan dana insentif yang besar untuk pengembangan inovasi-inovasi tersebut,” tambah Dr. Hotmatua Daulay seraya menyemangati para mahasiswa untuk menciptakan inovasi baru. Diakhir kegiatan tersebut diumumkan para nominator-nominator UTU Award di 5 bidang yang menjadi pemenang. Bidang Produk Inovatif berbasis agro dan marine industry, juara I diraih oleh mahasiswa Universitas Brawijaya, juara II diraih oleh Universitas Syiah Kuala, Juara III diraih oleh Universitas Islam Indonesia, Harapan I diraih oleh Universitas Sumatera Utara, serta harapan II Universitas Syiah Kuala.

Bidang Riset Unggulan Berbasis Entrepreneurship, juara I diraih oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara, Juara II diraih oleh Institut Pertanian Bogor, Juara III diraih oleh Universitas Teuku Umar, harapan I diraih oleh Institut Pertanian Bogor serta harapan II diraih oleh Universitas Negeri Yogyakarta. sementara itu, untuk Bidang Toko Online, Juara I diraih oleh mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng, Juara II diraih oleh Institut Pertanian Bogor, Juara III diraih oleh Universitas Malikulsaleh, Harapan I Universitas Malikulsaleh serta harapan II diraih oleh Universitas Teuku Umar.

Bidang perencanaan bisnis, juara I diraih oleh mahasiswa Universitas Brawijaya, Juara II diraih oleh Universitas Diponegoro, Juara III diraih oleh Universitas Syiah Kuala, Harapan I diraih oleh Universitas Sumatera Utara, serta harapan II diraih oleh Universitas Teuku Umar. Untuk bidang Catur Teuku Umar, Juara I, II, III dan Harapan I dan II diraih oleh mahasiswa Universitas Teuku Umar.  (Ikhsan SE/Editor/HKLI)

Kemenristekdikti Dorong DRN Jabarkan Hilirisasi Dalam Dokumen Tertulis

Published by:

JAKARTA – Arah dan prioritas utama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam mendorong dan meningkatkan daya saing bangsa adalah dengan menyediakan tenaga terampil dan hilirisasi. Dalam konteks penguatan riset dan inovasi, terminologi hilirisasi masih menjadi sesuatu yang perlu dibedah para pakar. Sudah setahun lebih term hilirisasi ini bergulir, namun belum dirumuskan menjadi dokumen tertulis yang dapat dijadikan sebagai rujukan para birokrat dan stakeholder Ristekdikti dalam mengimplementasikan kebijakan. Padahal hilirisasi menjadi salah satu kunci penting dalam mendorong daya saing. Untuk itu, Dewan Riset Nasional (DRN) diharapkan dapat berperan dalam menjabarkan term hilirisasi dalam dokumen tertulis.

Hal itu dipaparkan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, M.Dimyati, ketika tampil sebagai pembicara kunci dalam Seminar Nasional bertema “Mencari Terobosan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Nasional “ yang digelar DRN di Auditorium Gedung BPPT II Jakarta, Senin (14/10).

Seminar yang digelar dalam rangka Sidang Paripurna II tahun 2016 tersebut, diikuti perwakilan sejumlah lembaga stakeholder Ristekdikti dari Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK), anggota DRN maupun Dewan Riset Daerah. Nara sumber yang ditampilkan berasal dari berbagai lembaga, antara lain adalah Jumain Appe (Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti) memaparkan materi berjudul “Dukungan Kebijakan Riset dan Inovasi untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri; M Firmansyah Arifin (Direktur Utama PT PAL) dengan materi berjudul “Dukungan Kebijakan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Perkapalan”; Tri Hardono (dari PT INKA) memaparkan materi berjudul “Dukungan Kebijakan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Perkeretaapian”; dan Ahmad Sobandi (dari PT Krakatau Posco) memaparkan materi berjudul “Dukungan Kebijakan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Baja”.

Dimyati mengatakan, DRN dibentuk untuk membantu pemerintah dalam merumuskan arah, prioritas utama, dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Sebagai gudang pakar, DRN diharapkan dapat secara aktif mengkaji berbagai aspek perkembangan Iptek yang diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan pembangunan nasional,” jelas Dimyati.

Dalam kesempatan ini, Dimyati juga memaparkan berbagai tantangan yang sedang dihadapi Indonesia, seperti rendahnya daya saing dan rendahnya dana riset. Menurut Dimyati, kualitas lembaga riset di Indonesia memang terjadi peningkatan, demikian juga kolaborasi antara industry dan perguruan tinggi. Namun, tegas Dimyati, Indonesia harus bekerja lebih keras dan cerdas, serta meningkatkan sinergi antar lembaga terkait. Sebab, jika dibandingkan dengan Negara lain, dunia iptek Indonesia masih tertinggal.

“Kita masih banyak tertinggal. Inovasi yang digunakan di dalam negeri, masih 58% berasal dari luar,” paparnya.

Ketua DRN Bambang S mengatakan, seminar ini merupakan upaya DRN untuk menghimpun pemikiran dan rumusan kebijakan yang akan diserahkan kepada pemerintah melalui Menteri Riset Teknologi dan dan Pendidikan Tinggi. Kenapa mengambil tema “Mencari Terobosan untuk Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Industri Nasional“? Menurut Bambang, selain sesuai Nawa Cita ke enam Presiden RI, daya saing adalah parameter pembangunan yang diturunkan dan terkait paling signifikan dengan Riset dan Inovasi. (SUT)